Langsung ke konten
NASIONAL

Miris! Jalan Sehat "Mlaku Fest" Pelajar di Kota Batu Diwarnai Aksi Anak SD Sawer Biduan, Wali Murid Menyayangkan, K3S Akui Kurang Pantas

6 menit baca
11x dibaca
AD 728x90 — Landscape
Bagikan:
Miris! Jalan Sehat "Mlaku Fest" Pelajar di Kota Batu Diwarnai Aksi Anak SD Sawer Biduan, Wali Murid Menyayangkan, K3S Akui Kurang Pantas

MALANG NEWS - Dunia pendidikan dasar di Kota Batu kembali menjadi sorotan. Pasalnya, kegiatan jalan sehat yang digagas Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) pada Kamis (20/8/2026) di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Ba...

MALANG NEWS - Dunia pendidikan dasar di Kota Batu kembali menjadi sorotan. Pasalnya, kegiatan jalan sehat yang digagas Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) pada Kamis (20/8/2026) di Rest Area Mayangsari, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu  justru diwarnai dengan aksi yang dinilai tidak pantas dipertontonkan kepada anak-anak usia sekolah dasar.

Kegiatan yang diikuti ribuan siswa-siswi SD se-Kecamatan Batu tersebut sejatinya digelar sebagai kegiatan positif untuk membangun kebersamaan, kesehatan, sekaligus semangat kebangsaan. 

Pantauan awak media di lapangan, sejumlah wali murid juga turut mendampingi anak-anak mereka untuk mengikuti jalan sehat tersebut.

Baca Juga
Anggota DPC GRIB JAYA Kota Batu, Eko Santoso Siap Kawal Kasus Dugaan Jual Beli Lapak PKL

Anggota DPC GRIB JAYA Kota Batu, Eko Santoso Siap Kawal Kasus Dugaan Jual Beli Lapak PKL

NASIONAL

Namun, suasana berubah ketika hiburan musik elektone menampilkan seorang biduan perempuan. Di tengah hiburan tersebut, sejumlah siswa SD terlihat ikut bergoyang hingga naik ke area panggung dan memberikan saweran berupa uang kepada biduan.

Pemandangan tersebut sontak menuai keprihatinan. Pasalnya, berada dalam lingkungan acara yang melibatkan pelajar sekolah dasar dan diselenggarakan oleh unsur yang berkaitan langsung dengan dunia pendidikan.

Yang menjadi pertanyaan publik bukan hanya aksi spontan para siswa, tetapi juga bagaimana pengawasan orang dewasa dan para pendidik ketika kejadian tersebut berlangsung.

Baca Juga
Keberadaan Get E-Parking Habiskan Anggaran Rp 600 Juta, GRIB JAYA Malang Raya Demo Dishub Kota Batu

Keberadaan Get E-Parking Habiskan Anggaran Rp 600 Juta, GRIB JAYA Malang Raya Demo Dishub Kota Batu

NASIONAL

Sejumlah guru diketahui berada di lokasi. Namun, aksi siswa yang naik ke panggung dan memberikan uang saweran kepada biduan tersebut tetap berlangsung.

Publik pun mempertanyakan, apakah tidak ada guru, panitia, maupun pendamping yang seharusnya segera menghentikan atau mengarahkan siswa agar tidak menyawer?

Sebab, jika dalihnya adalah tindakan spontan, maka justru di situlah fungsi pengawasan orang dewasa dan pendidik diuji.

Baca Juga
GRIB JAYA Malang Raya Kawal Kasus Jual Beli Lapak PKL Alun-Alun Kota Batu, Dukung APH Usut Tuntas Hingga Penetapan Tersangka

GRIB JAYA Malang Raya Kawal Kasus Jual Beli Lapak PKL Alun-Alun Kota Batu, Dukung APH Usut Tuntas Hingga Penetapan Tersangka

NASIONAL

Pendidikan bukan hanya soal materi yang disampaikan di dalam ruang kelas. Keteladanan, etika, sopan santun, serta bagaimana seorang anak bersikap di ruang publik juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Terlebih, kegiatan tersebut membawa nama lembaga pendidikan dan diikuti oleh ribuan siswa sekolah dasar.

Ironisnya, K3S sendiri mengakui bahwa aksi tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar.

Wali Murid Prihatin dengan Aksi Sawer Dinilai Tak Pantas

Salah seorang wali murid Z mengaku sangat menyayangkan adanya aksi sawer yang dilakukan peserta didik, karena tidak pantas dilakukan anak-anak SD dan para guru juga tidak menghentikan.

"Terus terang saya prihatin sekali, sebab tidak ada pengawasan dari para guru dan pihak panitia pelaksana, saya kuatir moral anak saya menjadi rusak karena aksi tersebut, karena dalam masa pertumbuhan anak di aeah umur serta etika dan moral," ungkapnya.

Gerak Jalan Bayar Rp 5 Ribu

Dirinya juga mengungkapkan, bahwa kegiatan yang dimaksud berbayar sejumlah uang, dengan total Rp 5 ribu rupiah. Selain itu, di rundown kegiatan gerak jalan tidak ada.

"Saya bayar Rp 5 ribu untuk kupon kegiatan gerak jalan, yang rinciannya untuk gerak jalan Rp 3 ribu rupiah dan untuk permainan bayar Rp 2 ribu rupiah," ungkapnya.

Tak hanya itu, bapak satu anak ini lebih lanjut menambahkan, bahwa kegiatan tersebut tidak sepatutnya menampilkan sesuatu yang belum waktunya, walaupun dengan dalih hiburan.

"Saya menilai itu sangat tidak pantas sekali, apalagi sampai berjoget dengan orang dewasa sambil menyawer uang. Seharusnya, di moment kemerdekaan RI ke-81 ini kita harus lebih menghargai bentuk perjuangan para pahlawan terutama bagi generasi penerus bangsa seperti anak saya. Maka dari itu, anak saya langsung saya ajak pulang ke rumah, dan saya sangat menyayangkan sekali," paparnya.

Berharap Kepala Dinas Pendidikan Tindak Tegas

Dirinya berharap, agar kejadian tersebut dapat ditindak tegas oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu.

"Harapan saya, agar panitia dan guru-guru yang terlibat ditindak tegas dengan memberikan sanksi, agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, karena saya kuatir moral dan ahlak anak saya rusak, mental psikologisnya supaya tidak terganggu," paparnya.

Klarifikasi Ketua K3S

Ketua K3S, Mohammad Mustain, M.Ag dalam klarifikasinya menyebut aksi menyawer tersebut terjadi secara spontan dan tidak masuk dalam rangkaian acara yang direncanakan panitia.

“Kejadian di luar perencanaan. Tindakan menyawer oleh beberapa siswa SD tersebut terjadi secara spontan, mendadak, dan sama sekali tidak ada dalam rangkaian susunan acara yang direncanakan panitia,” ujarnya.

Pihaknya juga mengakui, adanya kekurangan dalam pengawasan usai gerak jalan yang dimaksud.

“Sebagai panitia, KKGO, BAPOPSI dan K3S, kami mengakui bahwa kejadian spontan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar,” katanya.

Menurutnya, kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat.

“Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi mendalam dan pembelajaran berharga bagi kami beserta seluruh kepala sekolah dan pendidik. Ke depan, kami akan memperketat pengawasan serta pengkondisian acara agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” tegasnya.

Berikut klarifikasi ​yang dikirimkan kepada awak media, melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp (WA).

Terima kasih atas konfirmasi dan kepedulian yang Bapak sampaikan. Perhatian media terhadap perkembangan etika dan moralitas generasi muda tentu menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami.

​Terkait temuan pada kegiatan jalan sehat tadi pagi, berikut adalah klarifikasi yang dapat kami sampaikan:
- ​Kronologi Kejadian: Kegiatan utama yang diselenggarakan adalah gerak jalan, yang kemudian dilanjutkan dengan acara pengundian hadiah hiburan yang diselingi penampilan penyanyi lokal.
- ​Kejadian di Luar Perencanaan: Tindakan menyawer oleh beberapa siswa SD tersebut terjadi secara spontan, mendadak, dan sama sekali tidak ada dalam rangkaian susunan acara yang direncanakan panitia.
- Pengawasan dan Evaluasi: Sebagai Paniti, KKGO, BAPOPSI dan K3S, kami mengakui bahwa kejadian spontan tersebut kurang pantas dan kurang etis dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar.
- Langkah Tindak Lanjut: Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi mendalam dan pembelajaran berharga bagi kami beserta seluruh kepala sekolah dan pendidik. 
- Ke depan, kami akan memperketat pengawasan serta pengkondisian acara agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

​Kami berkomitmen untuk terus membimbing dan menjaga nilai-nilai etika peserta didik, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

​Demikian klarifikasi ini kami sampaikan. 

Terima kasih atas kerja sama dan kemitraan media dalam mengawal pendidikan anak-anak kita.

​Salam hormat,
Panitia

Ngapunten sanget.

K3S juga menyatakan komitmennya untuk terus membimbing peserta didik dalam menjaga nilai-nilai etika, baik ketika berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Pernyataan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, publik layak berharap evaluasi tidak berhenti pada klarifikasi saja.

Sebab persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang menyawer atau siapa yang naik ke panggung. Persoalan yang lebih besar adalah mengapa dalam sebuah kegiatan yang melibatkan ribuan anak sekolah dasar, pengawasan terhadap perilaku peserta didik bisa sampai kecolongan? Apalagi ketika kegiatan tersebut membawa nama lembaga pendidikan.

Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menjadi ruang edukasi justru menghadirkan tontonan yang berpotensi menjadi contoh keliru bagi anak-anak.

K3S dan seluruh unsur pendidikan terkait kini dituntut membuktikan komitmennya. Bukan hanya dengan mengatakan akan melakukan evaluasi, tetapi juga memastikan setiap kegiatan di luar sekolah benar-benar menjadi bagian dari proses pendidikan yang aman, mendidik, dan memberikan keteladanan.

Sebab anak-anak adalah peserta didik. Mereka bukan sekadar penonton sebuah hiburan. Dan setiap kegiatan yang membawa nama lembaga pendidikan semestinya tetap menempatkan nilai edukasi, etika, serta perlindungan terhadap perkembangan anak sebagai prioritas utama bagi generasi penerus bangsa.

Hingga berita ini dilansir, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, M. Noer Adhim masih belum memberikan keterangan resmi, soal tindak lanjut maupun atensi serta sanksi kepada pihak panitia dan guru. (Nda)

AD 728x90 — Landscape
R

Aktifkan Notifikasi

Dapatkan update berita terbaru langsung di browser Anda.