by

Pengibaran Bendera Putih Kala PPKM, Riyanto: Kita Punya Gotong-royong

Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya Malang, Dr. Riyanto, M.Hum (Had)

MALANG NEWS – Konsep Gotong-royong merupakan warisan asli bangsa Nusantara yang tak lekang oleh zaman dan relevan untuk kondisi pandemi, serta perpanjangan PPKM seperti sekarang ini.

“Saya punya konsep “Gotong Royong Mbangun Desa”, yang  sudah berdiri 30 tahun yang lalu, yakni Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Desa Tamansari (Kabupaten Banyuwangi),” tegas Budayawan yang juga Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya Malang, Dr. Riyanto, M.Hum, Jumat (6/8/2021).

Seperti diketahui, di tengah kondisi pandemi Covid-19 dan pemberlakukan PPKM level 4 muncul fenomena pengibaran bendera putih, memicu emphati dari Budayawan yang juga akademisi Universitas Brawijaya Malang.

Dikatakannya, para alumni SD desa tersebut, yang ada di luar dan menetap di desa, bahu-membahu mengatasi kebutuhan masyarakat. Terutama keberlanjutan sekolah anak anak keluarga miskin. Di masa “khusus”, seperti pagebluk corona ini, mereka serentak mengumpulkan dana peduli pagebluk Corona.

“Ini gerakan luar biasa, apabila masing-masing desa di Nusantara ini punya program seperti itu,” tutur Riyanto.

ISOTER CEGAH PENYEBARAN COVID

Ia melanjutkan, berkenaan dengan pandemi Covid dan isoter, maka Isoter cukup disediakan di desa masing-masing.

Hendaknya ada petugas 24 jam, tenaga pamong praja (tukang ngemong), ASN terdekat. Juga tenaga medis yang siap dihubungi setiap saat. Selayaknya disiapkan fasilitas yang baik dan makan yang cukup.

Diungkapkannya selanjutnya, petugas yang bersangkutan semestinya memberikan penjelasan tentang arti penting keluarga dan kesehatan seluruh keluarga.

Sosialisasi Isoter hendaknya menggunakan bahasa rakyat, “pasrah kuwi wajib, nanging kudu diwiwiti mbudidaya” (pasrah itu wajib, tapi harus di awali usaha keras).

“Sosialisasi di masyarakat desa, harus keras dan masib. Pilihannya hanya ada satu, “dipaksa”. Komunikasi dibebankan pada perangkat desa, babinsa dan kepolisian. Biarlah tentara dan polisi marah, tapi marah bukan untuk menghancurkan,” pungkasnya. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed