by

Jelang Sound of Borobudur 24 Juni 2021, Pakar dan Akademisi Beri Sokongan

Event bergengsi Sound of Borobudur yang yang bakal digelar pada 24 Juni 2021. (Had)

MALANG NEWS – Jelang event bergengsi Sound of Borobudur yang semakin dekat 24 Juni 2021 nanti, sejumlah Pakar dan Akademisi memberikan sokongan.

“Sound Of Borobudur adalah sebuah upaya membunyikan artefak fisik yang sunyi, di mana kita berusaha menghadirkan kembali soundscape masa lalu di masa kini, dengan interpretasi yang sesuai zamannya. Proses yang dilakukan selama ini adalah riset, interpretasi, dan imajinasi kreatif, penyelarasan antara nilai yang “digali” yaitu kebersamaan dalam keberagaman, interaksi saling-silang budaya, dan aspirasi ke depan, melalui tahapan-tahapan proses identifikasi alat musik, rekonstruksi ulang alat, mengimajinasidengarkan soundscape masa lalu, dan menghadirkan musik dalam dunia masa kini,” tandas Pakar Ilmu Budaya, Universitas Indonesia  Prof Melani Budianta, Rabu (16/6/2021)

Ia melihat istilah pusat musik dunia ini sebagai salah satu pusat, yang plural, bukanlah model ada pemusatan dan ada peminggiran. Seperti halnya ada istilah pusat-pusat musik dunia, seperti London sebagai pusat musik rock, Nashville sebagai pusat musik country, Wina Austria sebagai pusat musik klasik, New Orleans sebagai pusat musik jazz, Paris sebagai pusat world music, Havana sebagai pusat musik rumba, Seoul sebagai pusat musik K-pop, Seattle sebagai pusat musik grunge, dan Berlin sebagai pusat musik orkestra.

Sementara kalau melakukan pemetaan pada musik tradisional di Nusantara akan menemukan data-data yang ironis, seperti ternyata di Inggris ada sekitar 150 kelompok gamelan, di San Deigo Amerka ada 200 kelompok, Munchen Jerman dikenal sebagai gamelan city of the world. Bagaimana dengan kondisi kesenian gamelan sendiri di Indonesia?

Kondisi ini bisa terjadi karena adanya warisan post kolonial dalam tatanan kapitalisme global, di mana terjadi hegemoni arus budaya global, sekaligus paralel dengan tergerusnya arus budaya lokal.

Karenanya harus kembali dibangun konsep lumbung. Lumbung budaya nusantara, seperti gerakan pemajuan kebudayaan desa, kampung, dan komunitas, identifikasi dan penggalian potensi budaya lokal, memanfaatkan kekayaan bidaya untuk kepentingan masa kini (dimutakhirkan), regenerasi, menjadikan modal budaya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan secara kolektif, pengorganisasian dari bawah, partisipatif, dan inklusif, serta memposisikan “identitas” dan arah pengembangan ke depan.

Dalam hal identitas budaya, Borobudur milik siapa? Borobudur adalah aset dunia, bukan saja milik nasional, bagaimana kita tidak sekedar membangun kebanggan nasional dan dimiliki untuk diri sendiri (chauvinistis), kita harus menggali jejak dinamika lintas budaya, menembus batas-batas negara dan bangsa, serta memiliki pemahaman bahwa pusat bukan berarti memusatkan kuasa, melainkan menjadi sentra persilangan yang dinamis dan inklusif.

“Borobudur adalah sebuah lumbung budaya Nusantara yang menyimpan berbagai macam sumber daya, untuk dunia, bukan hanya untuk kita. Tapi ini semua harus dikerjakan dengan inklusif, kolektif, dan bergotong-royong, bersifat universal, serta tidak terkotak agama dan etnis,” terangnya.

FUNGSI MEDITASI

“Di candi Borobudur, relief tentang alat musik terukir pada 44 panel relief, dengan rincian yaitu 10 panel di relief Karmawibhanga, 3 panel di Lalitavistara, 17 panel pada relief Jataka-Awadana, dan 14 panel di relief Gandawyuha,” terang Arkeolog, Universitas Gajah Mada Nurkhotimah, MA.

Relief tentang alat musik di Borobudur ini adalah yang terbanyak, bila dibandingkan dengan relief-relief alat musik yang ada di situs-situs yang lain yang ada pada masa yang sama, baik di Indonesia maupun di dunia.

Relief alat musik, arca, dan prasasti adalah identitas peradaban Mataram Kuna. Dalam konteks musik, ada beberapa peranan penting  dari musik saat itu, pertama sebagai sarana keagamaan, spiritual dan religi, kedua sebagai hiburan, dan ketiga adalah sebagai sarana ekonomi untuk mencari nafkah.

“Dalam prakteknya, bunyi-bunyian ada juga yang memiliki fungsi-fungsi meditasi, penyembuhan. Pada masa leluhur kita hidup tiga belas abad yang lalu, musik seringkali menjadi sebuah persembahan kepada alam semesta. Saat itu perkembangan musik bergeliat pesat, musik menunjukkan jati diri humanis, harmonis, dan romantis, serta musik sebagai alat persahabatan. Musik juga menjadi lambang persatuan antar berbagai kalangan dan komunitas,” imbuhnya.

SENTRA MUSIKA DUNIA

“Referensi Belanda Jaap Kunst (1968, tabel C hal 121) terdapat informasi panel-panel mana yang memuat data tentang musika (ada 104-108 panel, ada beberapa panel yang meragukan, kira-kira ada 1/10 dari seluruh panel), dalam satu panel bisa terdapat belasan relief, dan ada 200 lebih alat musik yang tergambar di panel,” tukas Arkeolog dan Sejarahwan, Universitas Negeri Malang, Drs. M. Dwi Cahyono, MHum.

Dalam relief-relief ini terlihat jumlah yang cukup banyak dan beragam, dari alat musik pukul, alat musik tiup, alat musik dawai, dan alat musik membran. Di mana terdapat sekitar 40-an panel yang menggambarkan tentang ensamble musik.

Borobudur adalah sumber data artefaktual tertua yang terbanyak menggambarkan orkestrasi musik, dan beragam (kompleksitas). Dari relief-relief di Borobudur terlhat bagaimana interaksi pemusik dan audiens, disajikan dalam kegiatan di pasar, atau dalam upacara.

Data musika pada Borobudur dibuat pada era Mataram Kuno (Dinasti Syailendra dan Dinasti Isanawangsa). Pada peradaban masa lampau, di dalam peradaban ada kesenian, di dalam kesenian ada musik. Citra musika yang dihadirkan Borobudur adalah pada skala makro.

Borobudur tidak hanya menggambarkan musika Jawa Tengah, tapi Nusantara, banyak kesamaan-kesamaan dengan alat musik yang tersebar di Nusantara, bahkan Waditra musika Nusantara lintas masa memiliki citra musika yang makro, palng tidak makro asia (Asia Selatan, khususnya: India dan Cina), juga di Afrika dan Pasifiik.

“Maka, saya cukup setuju dengan hipotesis bahwa Bborobudur pada masanya merupakan sentra musika dunia. PR-nya adalah bagaimana hal itu semua ditransformasikan ke masa kini.
PR yang masih tersisa adalah bagaimana potensi musika Borobudur bisa dipetakan lebih detil, dari sisi jenis alat musik (pukul, tiup), dari sisi fungsi (untuk upacara, untuk bersyukur, dll), dari sebaran alat musik yang masih ada hari ini, dari hal kesinambungan dalam hal bentuk, dari hal kesinambungan dalam hal teknik membunyikan dan notasi, serta kesinambungan dalam hal fungsi,” pungkasnya. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed