Kades Tulungrejo, Suliono Bantah Isu Dugaan Mikutopia Ambil Air Hipam dari Warga
MALANG NEWS - Soal beredar adanya isu dari warga setempat, bahwasanya dugaan Mikutopia mengambil air dari Hipam sumber air di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dibantah Kepala Desa (Kades) Tulungrejo, Suliono. Menurutny...
MALANG NEWS - Soal beredar adanya isu dari warga setempat, bahwasanya dugaan Mikutopia mengambil air dari Hipam sumber air di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dibantah Kepala Desa (Kades) Tulungrejo, Suliono.
Menurutnya, pihak Mikutopia tidak mengambil air dari Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam) maupun dari dusun atau warga setempat, apalagi dari lingkungan.
"Ya, karena itu airnya memang dari sumber yang dari dulu sudah ada sebab beda mata air, sumber airnya sendiri-sendiri dari gunung biru, jadi isu itu tidak benar adanya," bantah Ki Klungsu sapaan akrabnya kepada awak media, pada Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, air dari Mikutopia memang berasal dari gunung biru, maka secara otomatis tidak mungkin mengambil air dari Hipam.
"Apalagi dari lingkungan, sebab mata airnya itu juga berbeda karena berasal dari gunung biru, itu yang perlu diluruskan," tegasnya.
Dirinya menambahkan, sejak Pak Sartam meninggal, pengurus air tidak ada. Maka, solusinya sebenarnya harus menggandeng Pemdes Tulungrejo.
"Karena waktu itu owner Mikutopia sudah bilang ke saya, Pak Kades tolong kami dibantu, maka saya siap menbantu, tapi harus ada tertulis, tidak bisa cuma ucapan," ujarnya.
Isu Air Mati
Dirinya menegaskan, bahwa soal isu dugaan air mati harus di kroscek dulu kebenarannya.
"Harus dicek dulu penyebabnya apa, harus ditanya dulu matinya karena apa, buntu atau bagaimana? karena disitu (Perumnas), tidak ada Hipam. Yang menjadi pertanyaan, pembayaran airnya ke siapa, sudah bayar atau belum dan bayarnya ke mana? Kalau tidak bayar, perawatannya bagaimana?," tanya Ki Klungsu.
Sistem Pengelolaan Air di Tulungrejo Per Blok atau Jalur
Tak hanya itu, Suliono juga lebih lanjut mengungkapkan, bahwasanya setiap wilayah punya pengurus da mata air sendiri-sendiri, tidak jadi satu.
"Kalau di Junggo diurus Hipam, jadi airnya lebih-lebih atau melimpah. Jadi, tidak mungkin mati. Kalau yang di Perumnas, seharusnya ikut Junggo, maka seharusnya juga tidak mati. Kalau
Mikotopia (depan), itu punya pengurus sendiri, pakai air BumDes, tidak menyangkut warga. Otomatis, tidak pernah mati. Selain itu, di RW 17 yang punya ini beda lagi, karena di Kekep itu ada 2 pengurus, Bonjeruk sendiri, Gondang ada 2, Dusun
Gerdu juga ada 1 pengurus," ungkapnya.
Bantah Dugaan Disuntik Mikotopia
Menurutnya, jika sumber mata air berbeda maka tidak mungkin muncul dugaan air mati karena disuntik Mikotopia.
"Kalau disuntik Mikutopia tidak mungkin, kalau Mikotopia nyuntik, pasti levelnya dusun, jadi saya pastikan tidak mungkin lingkungan. Justru BumDes itu memberi ke warganya. Logikanya, semua air lewat Coban Talun. Kalau memang kurang debit, mestinya ditembakkan di sana antar pengurus ke pengurus," tegasnya lagi.
Upaya Pemdes Tulungrejo Saat Ini
Ki Klungsu juga menyampaikan, bahwa hari ini Pemdes Tulungrejo sedang mengajukan lagi ke DPUPR Provinsi untuk menambah debit air yang atas untuk satu desa.
"Air mati di Perunas itu janggal, karena harusnya ikut jalur Junggo yang airnya melimpah. Perlu dicek, apakah ada HIpam-nya, bayarnya ke mana, dan matinya karena buntu atau tidak terawat? Bukan karena disuntik pihak lain," pungkasnya.
Sementara itu, Manager Operasional Mikutopia, Panji Akbar Ramadhani, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa soal dugaan isu yang dimaksud bisa ditanyakan ke Kades Tulungrejo.
"Waalaikumsallam itu tanya ke Pak Kades saja mas, kalau jawaban Pak Kades tidak ya berarti tidak," tandasnya. (Nda)
Ditulis oleh
Redaksi Malang News