Sampaikan Pesan Persatuan dan Kesatuan, Shinta Nuriyah: Apapun Suku dan Agamanya Kita Semua Bersaudara
MALANG NEWS – Istri mantan Presiden RI ke-4 almarhum KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah, menyampaikan…
MALANG NEWS – Istri mantan Presiden RI ke-4 almarhum KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah,
menyampaikan terkait pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
“Kita semua bersaudara, apapun sukunya, apapun agamanya karena pada hakikatnya kita adalah satu,” kata Shinta, dalam acara Sahur Bersama, di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (3/4/2024).
Menurutnya, negara akan runtuh jika terpecah belah, sebaliknya jika bersatu negara akan utuh.
Peserta sahur bersama yang terdiri dari kaum dhuafa, kaum miskin, mahasiswa dan kaum marjinal sesekali menimpali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Shinta. Kita tinggal di mana? tanya Shinta. Indonesia! timpal peserta dengan riuh.
“Di mana?”
“Indonesia!”
“Yakin tinggal di Indonesia?”
“Yakin!”
“Kalau kalian semua tinggal di Indonesia, lantas mereka semua itu (yang berbeda keyakinan) siapa kita?”
“Saudara”
“Betul saudara?”
“Ya!”
“Yakin saudara?”
“Ya!”
Shinta pun mengaskan, jika saudara tidak boleh gontok-gontokan, tidak boleh cakar-cakaran, tidak boleh bunuh-bunuhan.
“Kita semua bersaudara,apapun sukunya, apapun agamanya,” tukas Shinta.
Menurut Shinta, Bangsa Indonesia hakikatnya adalah satu. “Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Itulah kita rakyat Indonesia,” terang Shinta.
Peserta pun diajak menyanyikan lagu Satu Nusa Dan Satu Bangsa.
Untuk diketahui kegiatan Sahur Keliling ini sudah berjalan 20 tahun, sejak Abdurrahman Wahid masih di Istana, dengan sasaran kegiatan kaum dhuafa, kamu miskin, dan kaum marjinal.
Shinta pun menutup dengan pesan untuk mempertahankan sebaik-baiknya, dan seutuh-utuhnya persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.
“Kita harus saling bersatu, saling tolong menolong, saling menghormati, dan saling menghargai,” urainya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga, KH Isroqunnajah, turut membeberkan cerita terkait moderasi beragama yang ada di lingkungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
“Kami mempunyai mahasiswa non muslim, ini kali ketiga. Luar biasa keinginannya untuk diterima di kampus kita, sehingga yang bersangkutan kita jadikan duta moderasi beragama di tingkat mahasiswa,” tegas Isroqunnajah, dalam pembukaan acara tersebut. (And)
Ditulis oleh
Edo Rabmadhani