by

Jika FPI Dipersenjatai, Begini Tanggapan Mengejutkan Pendiri NII Crisis Centre

Pendiri NII Crisis Centre, Ken Setiawan. (Had)

MALANG NEWS – Euforia kemenangan Taliban dinilai bisa memantik reaksi radikalisme dan aksi terorisme.

Menariknya, pemerintah lewat Densus 88 Anti Teror telah panen tangkapan teroris, yang diduga akan melakukan amaliah di hari sakral peringatan HUT RI ke-76 beberapa waktu lalu.

Kita juga bersyukur karena tak henti-hentinya para pengamat, dan mantan pentolan teroris yang kini telah insyaf dan bertobat kerapkali mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan sikap antisipatif terhadap bahaya radikalisme dan terorisme.

Satu statement baru yang menghentak (mengejutkan), adalah dari pendiri NII Crisis Centre Ken Setiawan yang menilai jika FPI apabila dipersenjatai, maka akan lebih sadis ketimbang Taliban.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengatakan, FPI dan Taliban sejatinya akidahnya bagus yaitu ahlusunnah wal jamaah.

“Tapi karena para pimpinan mereka salah bergaul dan terkontaminasi dengan kelompok Salafi Wahabi, seperti kalau di Indonesia ada HTI dan Ikhwanul Muslimin Indonesia yang akhirnya secara wawasan kebangsaan, mereka turut berubah menjadi radikalisme atas nama agama,” tegas Ken Setiawan, Senin (23/8/2021).

Untuk diketahui, bahwa fakta hampir semua teroris di Indonesia itu berideologi latar belakang NII dan Salafi Wahabi.

Bagi mereka, dalam bernegara harus menggunakan syariat Islam atau hukum Islam. Bila tetap pakai hukum KUHP yang bersumber dari Pancasila, maka mereka akan tetap memerangi pemerintahan siapapun presidennya.

Apa itu radikalisme atas nama agama? Menurut Ken, itu merupakan sebuah paham keagamaan atau pemikiran orang suatu kelompok yang kecewa terhadap kondisi pemerintah saat ini, karena menganggap pemerintahan dan produk hukum dianggap tidak berhukum Islam, dan mereka ingin merubahnya dengan cara yang keras dan drastis tanpa mengikuti prosedur hukum dan konstitusi.

FPI dan Taliban sama-sama selalu meneriakkan penegakan Islam secara kaffah, bercita-cita menjadikan negara makmur dinaungi satu pemimpin atau khalifah yang amanah dari kelompok mereka, walaupun faktanya di lapangan sering kita dapati antara tujuan dan realitas sangat berbeda.

“Kedua kelompok ini sama-sama menggunakan politisasi agama, tukang sweeping, bedanya Taliban sweeping pakai senjata langsung eksekusi, kalau FPI sweeping dan demo pakai pentungan saja, kalau dipegangin senjata api seperti Taliban, FPI akan lebih sadis, dan faktanya banyak pengurus dan anggota FPI ditangkap Densus 88 Anti Teror dengan tuduhan pasal terorisme,” tukasnya.

Politisasi agama yang kelihatan sekali oleh kelompok FPI dan pelindungnya, adalah Pilgub di beberapa daerah di Indonesia.

Sebagai muslim, Ken merasa malu karena mereka menggunakan cara-cara kotor, sampai-sampai tempat ibadah dan jenazah pendukung paslon berbeda tidak boleh disholatkan di masjid tertentu, ini sudah kelewatan.

Tapi Ken mengapresiasi kebaikan dan kesantunan salah satu pemimpin hasil politisasi agama tersebut, walaupun dengan anggaran trilyunan rupiah tapi tidak pernah pamer hasil dan prestasinya, walaupun kelebihan bayar dan beberapa proyek juga tidak pernah menagihnya, ini kan luar biasa.

“Kalau jadi Presiden keren kayaknya, karena dilihat dia berambisi jadi Presiden. saya tidak sebut nama loh,” ujar Ken.

Ken mengapresiasi organisasi FPI dan HTI di Indonesia sudah dibubarkan oleh pemerintah, walaupun mereka bermetamorfosa dengan nama-nama organisasi yang baru.

“Paling tidak sudah ada keseriusan dalam menindak ormas radikal yang meresahkan tersebut. Mereka itu ibarat ganti baju, tapi tidak mandi, jadi bau dan keberadaannya masih ada dan terasa,” imbuhnya.

“Aktor intelektual di belakang layar dengan istilah 3 C yang jelas tidak akan diam membiarkannya. Siapa mereka, cari jawaban sendiri,” tegas Ken.

Menurut Ken, pemerintah perlu membuat regulasi yang melarang dan menindak organisasi atau kelompok pengusung khilafah di Indonesia.

Khilafah itu kan sama saja dengan membuat pemerintahan dan pemimpin baru di dalam sebuah negara, itu sama saja makar.

“Selama ini kelompok pengusung khilafah ini masih bebas menyebarkan pahamnya atas nama demokrasi dan kebebasan berpendapat, ini kelemahannya karena belum ada regulasi yang mengatur tentang pelarangan mereka,” jelas Ken.

“NKRI sudah final dengan Pancasila dan keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika, jangan otak-atik dan ganti dengan ideologi lain kalau tetap ingin aman, damai dan kondusif,” paparnya.

“Sementara ini kelompok dan pendukung radikal cenderung aktif dan dapat panggung dimana-mana. Sementara yang mayoritas moderat nasionalis diam membiarkannya, jika yang waras diam, maka kelompok Taliban Indonesia ini tidak mustahil akan berkuasa,” tutup Ken. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed