by

Taliban Kuasai Afghanistan, Pengamat Kemanusiaan Beri Saran Ini kepada Pemerintah RI

Melissa seorang pengamat kemanusiaan. (Had)

MALANG NEWS – Dalam waktu singkat Taliban telah merebut satu demi satu distrik hingga menyerbu pangkalan-pangkalan pasukan pemerintah, bahkan Ibukota Afghanistan, Kabul juga dengan cepat dikuasai.

Hal ini merupakan buntut kejadian penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan akhir-akhir ini, memberi angin segar bagi gerilyawan Taliban.

Paska penguasaan 85 persen wilayah Afghanistan, Taliban mendeklarasikan sebuah penegasan, bahwa tidak akan memberi ruang bagi etnis Uyghur di Afghanistan, sebaliknya Taliban menganggap China sebagai teman. Amunisi bagi China, namun nestapa bagi Uyghur yang terusir dan Xinjiang.

Adanya fenomena ini, Melissa, Aktifis Kemanusiaan, menyoal sengkarut lara tak berkesudahan yang dialami Muslim Uyghur dan patgulipat dibalik kepentingan Taliban – China.

Adanya konflik Uyghur vs China yang diprediksi semakin parah paska penguasaan Taliban di Afghanistan, Pengamat Kemanusiaan Melissa menghimbau Pemerintah RI turut bersuara.

“Pemerintah Indonesia memang seharusnya bersuara melawan hal ini, tapi kecil kemungkinannya karena mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Taliban,” tegas Melissa, Kamis (19/8/2021).

Menanggapi pertanyaan apakah Pemerintah Indonesia perlu bersikap dalam persoalan ini, Melissa memberikan jawaban menohok.

“Mirisnya Indonesia juga melalukan hal yang sama dengan Taliban. Yaitu bersekutu dengan pemerintah Tiongkok atas dasar uang dan keserakahan, dan juga rela untuk dibayar dan mengkhianati saudara seiman sendiri untuk dikirim kembali ke Tiongkok dengan pengetahuan penuh bahwa mereka akan disiksa dan bahkan memungkinkan untuk dibunuh pada saat mereka kembali,” terang Melissa.

Sebelumnya, Afghanistan adalah rumah yang relatif aman bagi etnis Uyghur dibanding di negaranya sendiri, Xinjiang. Namun saat ini situasi telah berubah sejak Taliban berhasil menguasai 85 persen wilayah di Afghanistan. Melissa memberikan tanggapan.

“Sangat disayangkan yang terjadi di Afghanistan sekarang. bukan hanya untuk masyarakat Uyghur yang sudah selama ini berusaha untuk terbebas dari cengkraman Tiongkok, yang sekarang hampir bisa dipastikan akan dikirim kembali untuk disiksa atau mungkin dibunuh. Tapi juga untuk semua masyarakat Afghanistan yang negerinya jatuh di kekuasaan penguasa yang cacat moral. Taliban sayangnya menindas semua orang dengan menyalahgunakan Islam sebagai kedok,” tukas Melissa.

MOTIF MURNI KESERAKAHAN

Selanjutnya Melissa memaparkan tentang motif besar Taliban bersekutu dengan China yang tentu berbeda dalam banyak hal, meski Taliban dan Uyghur memiliki kesamaan keyakinan beragama yaitu Islam.

“Murni keserakahan. Tapi untuk sampai bisa menyerahkan saudara mereka sendiri ke cengkraman kelompok yang menindas mereka mempertegas bukti bahwa Taliban bukanlah kelompok beriman, melainkan kelompok cacat moral yang menggunakan kedok Islam,” sambung Melissa.

Melissa menjelaskan, terkait upaya pendekatan China ke Taliban berdasar kekhawatiran jika Taliban akan membuka jalan bagi Uyghur di Afghanistan untuk memusatkan kekuatan Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM) yang akan mengakibatkan pemberontakan di Xinjiang.

“Tiongkok sudah banyak berinvestasi di Afghanistan sebelumnya, dan ini adalah alasan terbesar kenapa mereka mendekatkan diri ke Taliban, untuk menjaga investasi mereka yang belum berbuah hasil untuk tetap aman dibawah “penguasa” yang baru. Diluar itu, pemerintah Tiongkok juga menggunakan kesempatan ini untuk mencengkeram kembali masyarakat Uyghur yang berhasil melarikan diri dari Xinjiang. Ini tidak ada hubungannya dengan kekuatan ETIM yang diklaim oleh Tiongkok,” tegas Melissa.

Selanjutnya Melissa memberikan analisa melihat nasib Muslim Uyghur ke depan, pasca penguasaan Taliban atas Afghanistan.

“Kenyataannya mereka yang dikirim kembali akan melalui penyiksaan di Tiongkok, kemungkinan juga dibunuh. Muslim Uyghur harus secepatnya keluar dari Afghanistan untuk mencari perlindungan di tempat lain. Tiongkok telah berhasil untuk menyakinkan sesama muslim untuk menjadi musuh bagi Muslim Uyghur dan ini sudah seharusnya dikecam oleh negara Islam lainnya,” pungkasnya. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed