by

Terapkan Prokes Ketat, Sesekaran Topeng Malang di KBP Digelar Secara Sederhana

Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik, Ki Demang, saat tengah berziarah dan memanjatkan doa pengampunan ke makam Mbah Reni. (And)

MALANG NEWS – Ada pemandangan yang berbeda di Kampung Budaya Polowijen (KBP). Pasalnya, sejak pagi didapati beberapa warga dan penari berkumpul di panggung KBP. Bahkan, sebagian dari mereka mempersiapkan kembang setaman, cok bakal, dupa, kemenyan serta menata topeng-topeng di atas meja, Sabtu (14/8/2021).

Ternyata, diketahui hari itu adalah hari peringatan ke 86 tahun wafatnya Empu Topeng Malang, Ki Condro Suwono yang akrab dipanggil mbah Reni. Peringatan yang dilakukan sejak 7 tahun yang lalu, ketika dipugar kembali makam Mbah Reni. Maka, setiap bulan Suro (tahun Jawa) atau Muharram (tahun Islam) selang satu hari setelah Jumat Legi sebagai hari pertanda dimulainya bersih Desa Polowijen.

Dan biasanya, pada Jum’at Legi bulan Suro di petren ada kegiatan ritual selamatan yang dilakukan di punden Joko Lolo. Setelah itu hari berikutnya Sabtu Pahing di Makam Mbah Reni, selalu ada kegiatan ritual Sesekaran Topeng Malang yang di selenggarakan oleh KBP.

Gelaran Sekaran Topeng Malang selama 5 tahun berturut-turut itu, selalu meriah dinanti-nantikan para pecinta seni topeng dan menjadi di tontonan bagi para wisatawan. Acara selalu dihadiri oleh para pegiat pelaku seniman topeng se-Malang Raya dari kantong-kantong topeng malang seperti dari Kedungmonggo, Lowok Permanu Pakisaji, Tumpang, Jabung, Glagahdowo, Senggreng, Pijiombo Jambuwer, Kromengan dan Jatiguwi.

Para seniman topeng selain ikut nyekar, mereka juga turut serta memeriahkan dan menyumbang acara dalam bentuk tari Topeng Malang.

Sejak pandemi Covid-19 tahun lalu, Sekaran Topeng Malang diselenggarakan secara virtual. Tapi tahun ini 2021 karena ada pemberlakuan PPKM level 4 Jawa dan Bali termasuk di Kota Malang, maka Sesekaran Topeng Malang diselenggarakan sangat sederhana, yaitu hanya berziarah ke makam Mbah Reni untuk sekadar memanjatkan doa serta tasyakuran tumpeng dan bubur suro.

Serda Nurhasan, bersama dengan Serda Dasi sebagai Babinsa Kelurahan Polowijen yang hadir mengawal acara tersebut menyampaikan, bahwa dirinya wajib mengawal ketika masyarakat mengadakan acara dimasa Pandemi Covid seperti ini.

“Ya, tujuannya kami memastikan menggunakan protokol kesehatan secara ketat. Karena acara umumnya nyekar seperti biasa ke makam yang di ikuti hanya 10 orang saja, dan harus terselenggara hari itu juga karena acara tradisi dan ritual menyangkut perhitungan hari dan penaggalan, maka kewajiban kami mendampingi,” tegas Babinsa yang ahli mocopat Jawa itu.

Acara Sesekaran Topeng Malang dipimpin langsung oleh Ki Demang, selaku Penggagas Kampung Budaya Polowijen. Bahkan, seluruh peserta diajak menuju ke makam Mbah Teni hanya 10 orang secara beriring-iringan dengan membawa cok bakal, uborampe, dupa. Menyan, kembang setaman, topeng dan kostum topeng.

Begitu sampai di makam Mbah Reni, semua topeng di taruh diatas makam dan sekarang topeng Malang dipandu oleh Yudhit Perdananto seorang kolektor, sekaligus pegiat dan budayawan Topeng Malang. Turut serta seniman topeng KBP Yulianto serta 7 penari topeng Malang dari KBP.

“Sesekaran ini memang agenda rutin tahunan dan sudah menjadi tradisi bagi pegiat seniman topeng Malang, untuk berziarah dan memanjatkan doa pengampunan bagi Mbah Reni kepada Allah SWT,” terang Yudhit seusai sesekaran ziarah ke Makam Mbah Reni.

Ditambahkan dia, bahwa kita yang sebagian hidup bergantung dari kesenian topeng hendaknya harus mensyukuri kepada para pahlawan dan pejuang kesenian.

“Ya, karena lewat almarhum beliau ini kita bisa mengembangkan,” tukas dia.

Ditempat yang sama, Ki Demang juga menambahkan mengenai persiapan apa saja yang di lakukan saat pandemi Covid -19 tersebut.

“Umumnya orang yekar membawa kembang setaman sebagai pertanda, bahwa kita harus mengiklaskan kepergian tokoh pejuang kesenian di Malang Raya ini, dan belajar mengharumkan namanya dengan mewarisi tradisi dan melestarikan budaya,” jelas pria yang bernama asli Isa Wahyudi ini.

Sedangkan cok bakal dan ubo rampe yang dibawa sebagai perlambang untuk mewujudkan rasa menghormati, lanjut Ki Demang, sebagai bentuk menghargai dan rasa syukur kepada Tuhan.

“Sekaligus sebagai ekspresi sikap welas asih secara nyata, kepada seluruh makhluk penghuni semesta,” tambah pria yang juga menjadi Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik di Kota Malang ini.

Sementara itu, Yulianto seniman pengukir topeng Malang juga mengajak para penari yang selama ini memakai topengnya, untuk membawa topeng-topeng ke makam, sebagai bentuk ekspresi bahwa sampai hari ini ada generasi yang meneruskan membuat topeng, serta berkesinian menari topeng.

“Setiap kali saya berziarah ke Makam Mbah Reni, saya merasa diingatkan untuk tetap produktif berkarya membuat topeng. Namun cuma sekarang kendalanya, pasar memang lagi jatuh yang pesan sangat jarang,” tandas Yuli yang selama ini yang mengarsiteki KBP. (And)

Bagikan Tautan

News Feed