by

PPKM Darurat dan Vaksinasi, Akademisi UB Malang Sampaikan Himbauan

Pakar Komunikasi dan Manajemen Krisis Universitas Brawijaya (UB) Malang, Maulina Pia Wulandari PhD. (Had)

MALANG NEWS – Penerapan PPKM Darurat akibat lonjakan angka positif Covid-19 memantik keprihatinan dari berbagai pihak.

Selain hal tersebut, adanya vaksinasi massal juga memicu kekhawatiran masyarakat menjadi abai dan kendor terhadap prokes.

“Apapun namanya mau PSBB atau PPKM darurat, begitu ini selesai, masyarakat Indonesia yang egois, tidak disiplin, dan tidak punya kesadaran akan cenderung mereplikasi perilakunya untuk berpergian liburan, menghadiri pertemuan luring,  kumpul-kumpul bersama teman-teman, dan tidak patuh pada protokol kesehatan,” terang Pakar Komunikasi dan Manajemen Krisis Universitas Brawijaya (UB) Malang, Maulina Pia Wulandari PhD, Selasa (6/7/2021).

Seperti diketahui, saat ini pemerintah telah menggenjot percepatan pencapaian herd Immunity dengan gas pol vaksinasi massal.

Adanya upaya ini juga sebagai ikhtiar untuk mengerem laju penularan Covid-19 dengan beragam varian baru yang kabarnya lebih berbahaya dari jenis sebelumnya.

Kini pemerintah yang telah bersinergi dengan berbagai unsur (pentahelix) telah berjibaku, mewujudkan imunitas kolektif untuk menghalau virus yang diduga berasal dari Wuhan China ini.

Pada realitanya, masyarakat relatif telah melakukan pengulangan kesalahan (kerapkali) dengan semisal abai terhadap aturan pemerintah terkait prokes (Protokol Kesehatan).

Hal ini tak ayal menjadikan setiap kali bertemu momen liburan baik itu hari besar keagamaan, hari libur nasional, hampir dipastikan terjadi mobilisasi massal berupa berlibur ramai-ramai, dan kumpul-kumpul yang potensial melanggar disiplin prokes.

Hal ini berdampak pada panen melonjaknya angka positif Covid-19 di masyarakat. Bukan cuma semisal liburan Lebaran tahun 2020, namun di tahun 2021 pada momen serupa (mudik Idul Fitri), angka positif Covid-19 meroket.

Perempuan alumnus FISIP Universitas Airlangga ini mengatakan, adanya vaksinasi pada sebagian masyarakat, dijadikan alasan untuk legitimasi kegiatan berkerumun yang abai prokes.

“Apalagi dengan alasan sudah dapat Vaksin. Akan tercipta semacam euforia kolektif pada masyarakat karena usai divaksin,” tegas Perempuan alumnus Studi Doktoral University of Newcastle Australia ini.

Perempuan hobi berinovasi kuliner ini mengingatkan, jika berdasar data statistik, angka korban Covid-19 di Indonesia sudah lebih tinggi dari korban Tsunami Aceh yang hilang di tahun 2004 lalu.

“Angka korban Covid-19 di Indonesia sudah lebih tinggi dari korban Tsunami Aceh yang hilang di tahun 2004. Masihkah masyarakat terus-menerus egois memikirkan kepentingan diri sendiri? Tidak bisakah masyarakat semua menahan diri dan disiplin demi kepentingan bersama?,” tukas Pia.

Pia memberikan resep jitu penanganan untuk pengendalian pandemi. “Gak ada resep yang jitu untuk menangani pandemi ini kecuali masyarakat harus benar-benar menahan diri, tidak egois, dan patuh pada protokol kesehatan.  InsyAllah pandemi ini bisa dikendalikan,” pungkasnya. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed