by

Gedung SDN di Tirtoyudo Rusak Parah Terdampak Gempa, Siswa Ujian di Bawah Tenda

Tenda darurat, untuk tempat belajar mengajar bagi para siswa dan siswi. (Had)

MALANG NEWS – Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang rusak parah terdampak gempa beberapa waktu lalu, siswa terpaksa menjalankan ujian di bawah tenda.

“Ya, karena gedung sekolah tidak bisa ditempati karena retak parah. Terpaksa kami melaksanakan ujian di dua tenda ini, secara bergantian per kelas. Hari ini (Senin, 14/6/2021) kelas V dan VI,” ungkap salah satu guru kelas, Saptono.

Tersedia dua tenda yang dimanfaatkan sebagai kelas siswa-siswa tersebut untuk sementara. Yakni tenda Direktorat Jenderal Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di halaman sekolah, dan tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terletak di halaman salah satu warga setempat.

Pria berusia 56 tahun itu mengatakan, kerusakan gedung sekolah itu hingga saat ini belum diperbaiki. Pasalnya belum ada bantuan atau instruksi dari Pemerintah Kabupaten Malang.

“Beberapa waktu lalu ada bantuan dari BUMN memberi bantuan senilai Rp 50 juta. Dari donatur swasta juga ada berupa material bangunan,” tuturnya.

Sementara itu, bantuan dari pemerintah, menurut Saptono saat ini masih dalam proses pengajuan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

“Pengajuan bantuannya maksimal Rp 200 juta. Dengan nilai segitu, melihat kondisi kerusakan gedung sekolah sepertinya akan kurang. Saat ini, sambil menunggu bantuan itu turun, kami (sekolah) sedang memutar otak untuk mencukupi dana rencana rekonstruksi tersebut,” sambungnya.

Nasib yang hampir sama juga dialami oleh SDN 1 Jogomulyan, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo. Akibat gempa bumi 10 April lalu, sebagian gedung sekolahnya tidak dapat ditempati.

“Dari 6 ruang kelas, hanya tersisa 3 kelas yang masih bisa ditempati. Ketiga kelas itulah yang saat ini Kita tempati untuk melaksanakan ujian siswa,” ungkap salah satu guru kelas SDN 1 Jogomulyan, Sukandar.

Ditanya terkait bantuan, ia juga mengaku hanya menunggu bantuan dari pemerintah.

“Proposal sudah kami ajukan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. BUMN katanya juga mau memberikan bantuan Rp 50 juta, tapi saat ini belum cair,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Rahmat Hardijono mengatakan proposal pengajuan bantuan pembangunan sekolah-sekolah terdampak gempa bumi itu sudah diajukan ke Kementerian Pendidikan.

“Apabila tidak direalisasikan tahun ini maka diusahakan untuk masuk dalam program tahun anggaran 2022,” ujarnya.

Diketahui, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan di Kabupaten Malang akibat gempa bumi 10 April lalu sebanyak 226 unit.

“Nilai bantuannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan pada masing-masing sekolah,” pungkasnya. (Had)

Bagikan Tautan

News Feed