by

Hunting Phonegraphy di Ngadas, Mahasiswa UWG Malang Merekam Jejak Ecososioreligiokultural

mahasiswa Universitas Widyagama Malang (UWG Malang) hunting Phonegraphy di Ngadas.
Mahasiswa UWG Malang, saat tengah hunting foto di Ngadas. (Had).
MALANG NEWS – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50 dan merekam jejak Ecososioreligiokultural Tengger, mahasiswa Universitas Widyagama Malang (UWG Malang) hunting Phonegraphy di Ngadas.


“Rekaman perubahan ini yang disorot dalam perspektif hukum. Mahasiswa melakukan dokumentasi rekaman peristiwa-peristiwa yang terjadi baik dari sisi perspektif hukum konservasi, hukum lingkungan, hukum tata ruang, hukum HAKI, budaya hukum, maupun faktor-faktor non hukum lainnya yang mempengaruhi perkembangan budaya hukum masyarakat Tengger dan hukum adatnya,” jelas Koordinator kegiatan, Fika, pada Minggu (7/3/2021).

Sekilas informasi, 10 Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang memanfaatkan handphone (HP) untuk hunting foto di Desa Ngadas, Kabupaten Malang dan Desa Rani Pani, Kabupaten Lumajang selama tiga hari mulai 5 Maret 2021 sampai 7 Maret 2021.

Memaksimalkan Kamera HP

Koordinator kegiatan, Fika, mengatakan bahwa kegiatan ini dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Widyagama Malang. Foto dibidik dengan HP dan mendokumentasikan atau merekam jejak hukum dari kondisi ecososioreligiokultural Tengger di Desa Ngadas dan Ranu Pani.

Ia mengatakan, terdapat prediksi bahwa telah terjadi perubahan ecososioreligiokultural pada kawasan Tengger di daerah konservasi, yakni di desa enclave (yang berada di tengah-tengah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru).

Fika menambahkan, hampir semua mahasiswa memiliki HP tetapi bagaimana sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dapat bertanggung jawab atas perangkat komunikasi modern miliknya dengan mengoptimalkan kamera HP menjadi seusatu yang bermanfaat dalam studi.

Atas dasar latar itu kata Fika kemudian mahasiswa FH UWG Malang menggagas perlu melakukan pendokumentasian atau merekam dinamika perkembangan ecososioreligito kultural, yang berpengaruh pada perkembangan hukum masyarakat setempat (hukum adat) maupun hukum negara.

“Minimal akan terdapat arsip perkembangan Tengger Ngadas dan Ranu Pani khususnya perubahan ekologi, kearifan lokal, budaya hukumnya di berbagai sisi kehidupan seperti berladang, tata ruang, pemanfaatan kayu-kayu di hutan, model pemenuhan kebutuhannya, dan sebagainya yang akan terekam dan akan dapat dibandingkan pada 10 atau 20 tahun ke depan.

Dipamerkan online 31 Maret 2021

Hasil rekaman ini nantinya dipamerkan secara online pada 31 Maret 2021 sebagai bagian dari peringatan 50th Universitas Widyagama Malang, di mana dalam pameran itu masing-masing bidikan foto mahasiswa akan diberikan narasi penjelas dalam konteks makna hukumnya.

“Dari pameran ini dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa yang meminati hukum adat atau pun antropologi hukum, karena akan mendapatkan model referensi alternatif berupa dokumentasi hukum dalam bentuk foto dan narasi teks,” paparnya.

Dirinya juga mengajarkan, pada prinsipnya menggunakan HP untuk meningkatkan kapasitas diri.

“Gunakan HP-mu dalam era model belajar yang sudah berbasis online dan keleluasaan yang diberikan pemerintah lewat Merdeka Belajar Kampus Merdeka, sangat menunjang mahasiswa berkreasi dan mengekspresikan dirinya,” tutup mahasiswa semester 6 FH UWG Malang itu. (Had).

Bagikan Tautan

News Feed