by

Pemberdayaan Ekonomi, Dial Foundation Bina Warga Kelola Homestay

Caption : Pemberdayaan di Pendopo Kembangkopi. (ist)
Dial Foundation, saat memberdayakan warga melalui pendampingan usaha homestay di Pendopo Kembangkopi. (Had).
MALANG NEWS – Wabah Corona menjadikan sendi kehidupan dan perekonomian terpuruk. Namun, spirit kebangkitan ekonomi di tengah pandemi yang digagas Dial Foundation di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, layak menjadi inspirasi dan motivasi positif.


Betapa tidak, dengan perjuangan selama bertahun-tahun, Dial Foundation mampu menggerakkan perekonomian warga desa stempat melalui upaya pendampingan usaha homestay.

“Meningkatkan hunian dalam rumah tinggal ini, secara otomatis dapat mencapai kualitas sanitasi rumah dan lingkungan menjadi sehat. Sehat dalam pengertian, kamar yang cukup dengan penerangan, pengudaraan yang terbuka serta penataan yang lapang,” kata Founder Dial Foundation, Pietra Widiadi, pada Sabtu (14/11/2020).

Dampingi Pengelolaan Homestay

Pria yang juga alumnus Universitas Airlangga ini mengatakan, pihaknya dalam program pendampingan Pendopo Kembangkopi Wagir, mendorong warga masyarakat di Desa Sumbersuko untuk meningkatkan kualitas rumah tinggal mereka.

Rumah-rumah di pedesaan tidak terkecuali di lereng Gunung Kawi, umumnya tertutup rapat dan dikelola seperti Gudang. Salah satu sebabnya adalah karena kebutuhan ruang untuk keluarga besar.

Sanitasi Lingkungan Terjaga

Selain rumah sehat sebagai bagian dari pengembangan program pendampingan, Dial Foundation dalam Pendopo Kembangkopi, juga mendorong adanya peningkatan kesehatan sanitasi lingkungan.

Buang sampah, buang limbah rumah tangga atau saluran buangan air rumah tangga yang tidak sembarangan, serta penataan limbah ternak yang masih dilakukan di sekitar rumah tinggal.

Dengan upaya penataan sehat, dilakukan secara perlahan dan bertahap supaya warga tidak merasa ada desakan.

Pemberdayaan Unik

Kegiatan ini adalah kegiatan mandiri, sebagai upaya pernaikan lingkungan supaya menjadi lebih sehat. Dengan demikian, perubahan yang terjadi akan dapat dilakukan secara alami.

Salah satu upayanya adalah dengan memberikan bonus menginap bagi tamu yang mengunjungi Pendopo Kembangkopi, dalam jangka waktu lebih dari 1 malam.

Dengan adanya tamu menginap, ada dua hal yang didapat, yaitu warga mendapatkan tambahan dana untuk belanja harian dan mendapatkan saran atau nasehat bagaimana rumah mereka dikelola supaya sehat.

Tapi diberi pekerjaan rumah tangga (PR) untuk memberikan saran dan kesan, selama menginap terkait dengan kebersihan dan kesehatan rumah di mana mereka menginap.

Dua Puluh (20) Homestay

Program ini sudah dijalankan DF sejak 4 tahun yang lalu, dan saat ini sudah ada sekitar 20 rumah tinggal warga yang dikelola sebagai rumah sehat untuk dikembangkan menjadi homestay.

Pengertian homestay adalah rumah tinggal yang menyediakan kamar untuk disewakan kepada wisatawan, yang melakukan wisata ke desa.

Dalam pengertian ini, mendorong tumbuhnya desa wisata, dimana atraksi yang dikembangkan adalah wisatawan mengikiti kegiatan penghidupan harian warga.

Homestay Beda dengan Guest House

Dengan demikian konsep homestay sangat berbeda dengan guesthouse atau tepatnya hotel, atau hostel.

Karena pada dasarnya, warga tidak secara khusus membangun rumah atau kamar untuk orang menginap dalam desa wisata tersebut.

“Dengan demikian, meski dalam kondisi ekonomi yang sulit karena pandemi. Dimana pekerjaan di urban banyak yang dihentikan. Namun di desa masih terus bisa dikembangkan. Ini adalah sumbangsih dari DF dalam mendukung pengembangan ekonomi warga dalam masa pandemi,” tutup Pietra. (Had).

Bagikan Tautan

News Feed