Ikuti Kami di Google News

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno dari PDI Perjuangan
Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno, saat tengah diwawancarai awak media.
MALANG NEWS – Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Untari Bisowarno dari PDI Perjuangan, mendorong pengembangan budidaya empon-empon (rempah) untuk menyemarakkan kembali pemanfaatan obat herbal.


Hal itu dilakukan, agar nantinya masyarakat dapat kembali memanfaatkan ramuan herbal khas Indonesia dalam bidang kesehatan.

Menurutnya, empon-empon sebagai obat herbal harus selalu terus dikembangkan dan dilestarikan kembali.

“Karena sebelum ada obat modern, jamu tradisional ini sudah terbukti efektif untuk menangkal dan menyembuhkan berbagai macam penyakit,” kata Untari sapaan akrabnya kepada awak media, Minggu (14/6/2020).

Seperti diketahui, rempah atau empon-empon kini sedang banyak dicari masyarakat di saat pandemi Covid-19. Bahkan, sejumlah ahli pun berpendapat bahwa empon-empon dapat meningkatkan imunitas tubuh seseorang dan dapat mengobati beragam macam penyakit.

Terkait itu, di saat pandemi Covid-19, Komisi E DPRD Jatim kini tengah menggagas Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Obat Tradisional. Perda tersebut saat ini juga sedang disusun dan diharapkan nantinya dapat melestarikan ramuan herbal khas Indonesia.

“Penyusunan saat ini sudah 60 persen. Target kami akhir tahun ini selesai. Melalui Perda itulah diharapkan agar masyarakat bisa memanfaatkan kekayaan hayati yang ada di bumi Nusantara ini,” ungkap dia.

Legislator yang juga Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim ini menambahkan, pihaknya kini sedang mendorong untuk mengembangkan empon-empon di Malang Raya.

“Karena ditunjang juga dengan tanaman herbal milik Pemprov Jatim yang kini sedang dikembangkan di Kota Batu. Untuk itu, sata berharap agar Dinas Kesehatan Jawa Timur dapat melakukan uji klinis terhadap ramuan herbal yang ada di Indonesia,” imbuhnya.

Hal itu mengingat, lanjut Untari, dulu ramuan herbal sangat diminati oleh masyarakat karena dulu banyak masyarakat yang menjual melalui jamu gendong.

“Sebenarnya pasar kita ini ada. Hanya tinggal kita mengangkat derajat dari jamu gendong ini. Karena semenjak adanya obat modern, jamu-jamu herbal kurang laku di pasaran,” pungkas dia.

Pewarta: Andi Rachmanto
Editor: Eko Sabdianto
Publisher: Edius

Share: