Ikuti Kami di Google News

 

Yunanto, wartawan senior Harian Sore Surabaya Post (1982-2002).

MALANG NEWS – Saya terus mencermati karya jurnalistik di berbagai media _online_/media siber melalui grup WA. Hal-hal yang menarik, saya catat dan saya kritisi. Harapan saya (sekaligus motivasi), semoga terjadi peningkatan kualitas karya jurnalistik di semua media siber.

Minggu sore ini, 8 Maret 2020, saya gunakan untuk melakukan kontemplasi (renungan) atas “nasib” *kata sambung* dan *kata baku*. Ada beberapa kata sambung dan kata baku yang masih saja menjadi “korban” salah tulis para jurnalis.

Andai kata sambung dan kata baku itu elemen _who_ yang bisa dipersonifikasikan (dianggap sebagai manusia), pastilah akan _”sambat”_ (mengeluh). Pasalnya, terus-menerus menjadi “korban” salah tulis. Peliknya, pihak jurnalis sebagai pengguna kata sambung dan kata baku, seperti tak peduli. Boleh jadi malah merasa tidak bersalah.

Kata sambung _*dan, dengan, yang, tentang, atau*_ masih menjadi “korban” salah tulis di kalimat judul. Bahkan di tubuh berita. “Mereka” masih sering ditulis dengan menggunakan huruf besar (huruf kapital) di awal kata. Jadilah _*Dan, Dengan, Yang, Tentang, Atau*_. Tentu saja itu *salah* (tidak taat asas penulisan kata sambung), meskipun letaknya di kalimat judul.

Begitu pula “nasib buruk” beberapa kata baku yang sesungguhnya familiar (kerap digunakan). Kasus salah tulis kata baku begitu marak dan mencolok. Seolah jurnalisnya tidak peduli pada kaidah penulisan kata baku. Barangkali lupa, bahwa _”Bahasa Menunjukkan Bangsa”_. Begitu pula bahasa jurnalistik, menunjukkan kualitas jurnalisnya.

Kata-kata adalah “alat” jurnalis. Kata-kata kerap saya sebut sebagai bagian dari “alutsista” (“alat utama sistem persenjataan”) jurnalis. Akurasi penggunaan kata demi kata yang membentuk kalimat, sangat berkorelasi kuat dengan kualitas karya jurnalistik.

Sebagai “alat bukti”, di bawah ini saya tuliskan *kata baku tercetak miring*. Sedangkan *kata tidak baku* saya tuliskan *di dalam tanda baca kurung*.

Berikut ini sebagian kata-kata baku yang masih kerap menjadi “korban” salah tulis Sang Jurnalis dalam karya jurnalistiknya:

_imbau, imbauan, diimbau_ (himbau, himbauan, dihimbau),
_ubah, diubah, mengubah_ (rubah, dirubah, merubah),
_risiko_ (resiko),
_telantar_ (terlantar),
_kuitansi_ (kwitansi),
_kualitas_ (kwalitas),
_kuantitas_ (kwantitas),
_perajin_ (pengrajin),
_peduli_ (perduli),
_miliar_ (milyar),
_hektare_ (hektar),
_apotek_ (apotik),
_khawatir_ (kuwatir),
_waswas_ (was-was),
_tahu_ (tau),
_Rp_ (Rp. dengan tanda baca titik),
_Rp 2.500,00_ (Rp 2.500).

Masih ada beberapa kata baku yang “bernasib buruk”, menjadi “korban” salah tulis. Semoga kelak semakin menurun kuantitasnya. Tentu, harapan tersebut berpulang pada *niat* jurnalis untuk taat asas dalam penulisan kata sambung dan kata baku.

Demikian kontemplasi saya, Minggu sore ini. Syukur bila ada faedahnya.

Yunanto, alumni sekolah tinggi publisistik – Jakarta

Share: